Timo Tjahjanto Bicara Tentang Masa Depan Film Si Buta dari Gua Hantu

Timo Tjahjanto Bicara Tentang Masa Depan Film Si Buta dari Gua Hantu

Timo Tjahjanto Bicara Tentang Masa Depan Film Si Buta dari Gua Hantu

Timo membeberkan bahwa deretan cast sudah terpilih dan akan diumumkan dalam waktu dekat.

13 January 2020, 07:05

Timo Tjahjanto adalah salah satu sutradara spesialis action dan thriller dari Indonesia yang sudah berhasil mendunia berkat berbagai film keren, seperti The Night Comes for Us, Headshot, dan Killers. Seolah ingin keluar dari zona nyaman, Timo menerima pinangan untuk menyutradarai film jagoan Si Buta dari Gua Hantu.

Lantas, sudah sejauh apaperkembangan dari film Si Buta dari Gua Hantu? Berikut adalah wawancara antara AllFilm dan Timo mengenai hal tersebut.

Jadi, sudah sejauh apa nih perkembangan film Si Buta dari Gua Hantu?
Timo: Kemarin gue baru ngobrol sama produsernya. Jadi, segera akan kita umumkan siapa saja pemeran-pemerannya. Karena, pemain semuanya sudah dipilih, kayak Mata Malaikat sudah ada, Marni sudah ada juga namanya. Jadi, sekarang sudah mulai lengkap nih deretan cast-nya, biarpun untuk nge-deal Si Buta-nya nih masih butuh sedikit waktu lagi. Tapi, tahun ini gue yakin semua selesai sih masalah cast.

Dari segi action, apakah adegan silat dalam film ini akan terasa sadis dan gore, seperti adegan action di karya-karya kamu yang lain?
Challange gue di film ini justru adalah bagimana caranya film itu tetap terasa keras, tapi enggak ada yang kepala pecah atau apa. Karena, gue pikir, gue mau bikin film yang anak muda, ya, usia 15 tahun lah, bisa nonton dan memberi apresiasi gitu. Jadi, ini adalah kali pertama gue bikin film yang silatnya tuh didepan banget. Kalau Headshot dan The Night Comes for Us kan silatnya sudah dicampur dengan gerakan bela diri lain lain. Di sini gue lebih mau menunjukkan, apa sih jiwa dari persilatan di zaman penjajahan gitu loh.

Maunya segmentasi di usia 13 tahun atau 17 tahun ke atas?
Masalah itu akan gue kasih tahu, segera. Kalau daei gue sendiri, jujur, pengennya 17 tahun ke atas. Tapi, itu argumen yang akan terus berlanjut, karena pengen juga lah anak umur 14 tahun bisa nonton gitu. Jarang banget kan anak muda zaman sekarang di era modern gini mau nonton film silat dari pendekar Indonesia dari zaman penjajahan Belanda, abad ke-19. Gue pengen mereka nonton ini juga gitu. Apalagi, banyak sisi historis di film ini gitu loh, itu yang gue pengen sebenarnya.

Untuk membuat set atau latar Indonesia di era kolonial sulit enggak sih proses produksinya?
Sulit banget. Sampai sekaarang aja, kami masih terus menyusun skema looks Indonesia di tahun itu tuh seperti apa. Karena kan sekarang jarang ya, ada film yang menggunakan set di era segitu. Paling yang terbaru itu Naga Bonar kali ya. Tapi, itu pun masih lebih modern ketimbang Si Buta dari Gua Hantu. Jadi, kenapa proses film ini lama juga, karena banyak riset yang kayak gitunya. Misalnya, pasukan Belanda saat itu pakai baju seperti apa, pendekar silat Indonesianya juga seperti apa. Karena gue juga mau nunjukin gitu bahwa di era itu tuh pendekar silat enggak cuma dari Jawa Barat atau Jawa lah gitu, ada juga yang dari berbagai penjuru kepulauan di Indonesia.

Tapi, merasa tertahan enggak sih dengan permintaan membuat film yang tidak terlalu sadis?
Enggak juga sih. Gue malah merasa gini loh, kayak The Night Comes for us, Headshot, atau iklan gue untuk GoPay, kok style gue gini-gini lagi ya? Gue di sini mau kasih lihat satu gaya yang baru gitu. Lagipula, silat itu kan enggak selalu brutal gitu loh. Kadang justru yang bikin penasaran adalah bagaimana orang buta bisa melakukan gerakan silat.

Dari segi cerita, apakah banyak mengadaptasi dari komik atau banyak modifikasi, seperti Gundala?
Ya, gue juga enggak bisa ngomongin Gundala sih. Karena, itu kan visinya Joko ya. Tapi, gue sendiri sangat menempel dengan perpaduan antara komik Si Buta dari Gua Hantu karya Pak Ganes dan komik-komik yang baru. Lagipula gini, Gundala kan ceritanya besar sekali ya, tapi kalau gue tuh intinya cuma mau menceritakan makna dari seorang anak jawara yang ganteng, dijatuhkan, jadi gila, dan terus berusaha keras hingga bisa bangkit lagi. Itu aja. Jadi, secara garis besar misi gue lebih gampang lah dari segi penceritaan. Tokoh Mata malaikat itu juga kan sebenernya alter ego dari Si Buta, dua-duanya punya ilmu yang sama tinggi. Tapi yang satu selalu mengenai kegelapan dan yang satu lagi justru berusaha mencari cahaya gitu. Jadi, ya cerita pasti lebih simple dan jadi bisa lebih fokus untuk mengembangkan dua karakter itu melalui referensi komik yang sudah dipadukan.

Nutshell:

Sejak tahun lalu, Timo Tjahjanto diketahui akan terlibat di film jagoan Si Buta dari Gua Hantu. Namun, seperti apa perkembangan dari film tersebut saat ini? Apakah sudah terpilih deretan cast yang akan terlibat? Apa pula segmentasi yang Timo harapkan dari film tersebut? Dari segi cerita, apakah film akan banyak memodifikasi komik, seperti film Gundala? AllFilm telah menanyakan semua itu pada Timo dalam sesi wawancara yang tentunya menarik untuk disimak.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment