The World Of The High Castle

The World Of The High Castle

Reviews - The World Of The High Castle

Serial sci-fi The Man In The High Castle di Amazon Prime merupakan sebuah tontonan yang mengasyikkan terutama bagi yang mencintai genre sci-fi

20 November 2019, 07:05

Mengambil setting di sebuah alternate reality di tahun 1962, beberapa tahun setelah berakhirnya perang dunia ke-dua, The Man In The High Castle, yang diangkat dari buku science fiction legendaris karya Philip K. Dick ini mengajak kita masuk ke dalam sebuah dunia imajiner dimana Axis power yang termasuk Jepang dan Nazi memenangkan perang dunia kedua. Dan serial ini mengambil setting dimana benua Amerika diduduki oleh dua superpower tersebut dimana West Coast dikuasai oleh Jepang dan East Coast dikuasai oleh Nazi. 

West Coast diberi nama dengan Japanese Pacific State dan East Coast sebagai Greater Nazi Reich merupakan hasil imajinasi seorang penulis science fiction hebat yang telah memberikan kita karya-karya lainnya seperti Blade Runner, Minority Report dan banyak lagi. Memang, materi asli bukunya bukanlah hal yang mudah untuk dimengerti, dan di balik menariknya premis yang ditawarkan, begitu banyak intrik drama yang bercampur aduk melebur menjadi sebuah karya sastra yang fenomenal. 




Setelah season terakhirnya dirilis 15 November kemarin di Prime Video, rasanya tepat untuk mencoba melihat kembali series ini dari season pertamanya, yang pertama kali rilis 2015 silam. Cerita yang berpindah-pindah antara keadaan di Japanese Pacific States dengan karakter-karakter di dalamnya seperti Juliana Crain (Alexa Davalos), Frank Frink (Rupert Evans), Joe Blake (Luke Kleintank), Ed McCarthy (DJ Qualls), Nobusuke Tagomi (Cary-Hiroyuki Tagawa) dan juga Takeshi Kido (Joel De La Fuente) yang memegang peranan pentingnya masing-masing, harus berbagi alur cerita dengan karakter-karakter dari Greater Nazi Reich yang berpusat di New York dengan John Smith (Rufus Sewell) dan keluarganya. Smith sendiri adalah seorang tentara Amerika yang setelah perang berakhir akhirnya memutuskan untuk mengabdi kepada Hitler dan Himmler di Nazi. 




Pada season pertama dan kedua, cerita berfokus dan menitikberatkan pada perjuangan Juliana Crain ketika pertama kali bertemu anggota Resistance, yang merupakan sekelompok yang berusaha melawan kependudukan Jepang, dan kisah awal bagaimana ia berkenalan dengan Hawthorne Abendsen (Stephen Root) yang memiliki koleksi film-film newsreel yang ia dapatkan dari dunia yang berbeda dimana Amerika merupakan sebuah negara merdeka tanpa penindasan dari Jepang dan Nazi, dalam arti kata lain, dunia yang sebenarnya. Crain pun melihat kekuatan magis film ini menjadi sebuah harapan besar bahwa Jepang dan Nazi bisa dikalahkan dan ia pun bertekad untuk melakukan perubahan demi kemerdakaan Amerika. 

Season pertama dan kedua merupakan awal dari terbangunnya kompleksitas cerita serial ini, dan memang begitu banyak karakter yang dikenalkan di season pertama seringkali membuat kita sedikit bingung, dan karena setiap karakter memegang peranan penting dalam alur cerita serial ini, maka seringkali kita terpaksa harus menyaksikan ke belakang untuk mengingat kembali perkembangan karakter tersebut. 

Juliana Crain yang terlibat romansa dengan Frank Frink terpaksa harus berpisah dan akhirnya Crain pun bertemu dengan Joe Blake, seorang spy Nazi yang bekerja seolah membantu resistance demi obsesi Hitler mendapatkan newsreel film yang dimiliki Hawthorne Abendsen. Konflik pun terbentuk dengan baik sepanjang season pertama, dimana kita juga berkenala dengan Chief Inspector Takeshi Kido, seorang petinggi Kempeitai yang memegang peranan penting di ibukota Japanese Pacific States, San Francisco. 

Kemudian kita juga diajak berkenalan dengan Obergruppenfuhrer John Smith, yang diperankan dengan sangat brilian oleh Rufuf Sewell, sebagai seorang prajurit Amerika yang menjadi petinggi Nazi. Konflik antara keluarganya dan kepercayaan mereka terhadap paham Nazi juga menjadi konflik yang menarik diikuti setelah season ke-dua, dan John Smith juga menjadi karakter kunci dari dunia The Man In The High Castle. 




Meskipun terasa begitu dragging, season ke-dua The Man In The High Castle mencoba membangun intrik yang tidak mudah, dan mengawinkan antara permasalahan spionase, romansa dan juga human interest dari serial ini, terasa begitu berat. Mungkin ini yang membuat Amazon memecat Frank Spotnitz di season kedua sebagai showrunner series ini. Namun keputusan tersebut, terbukti tepat sebab season ketiga serial yang juga ikut diproduseri oleh Ridley Scott ini terasa semakin kuat. 

Inti cerita dari serial ini pun terlihat semakin matang di season ketiga, dimana kita berkenalan dengan konsep travelling, yang memungkinkan beberapa tokoh utama di serial ini menyeberang ke dunia lain, dimana realita yang ditawarkan berbeda dengan yang ada di cerita dasar serial ini. 

Dan ketika Nazi pun membuat mesin portal yang memungkinkan bagi manusia awam untuk menyeberang ke dimensi yang berbeda, intensitas aksi di serial ini semakin meningkat, dengan kelompok resistance yang mencoba menghancurkan mesin ini dan menghentikan dominasi Nazi di benua Amerika. 

Secara keseluruhan, melalui empat season The Man In The High Castle, rasanya tidak sulit untuk mengatakan bahwa ini adalah sebuah serial science fiction adventure yang begitu menyenangkan untuk diikuti, dan perkembangan masing-masing karakter yang begitu kuat, serta premis cerita yang begitu mendukung menjadikan serial ini salah satu kebanggaan Amazon. Namun kelemahan season finale yang justru sangat penting sebagai konklusi serial ini menjadikannya sangat lemah, dan terasa seperti dibuat sekenanya. Betul memang The Man In The High Castle memiliki premis yang luas dan terbangun di atas dunia narasi visual yang sangat kokoh, namun eksekusi ending dari serial ini menjadikan semuanya terkesan sia-sia. 

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment