Susi Susanti Love All

Susi Susanti Love All

Reviews - Susi Susanti Love All

Lewat film ini, Sim. F, mencoba menuturkan bagaimana kisah hidup Susi yang tak pernah mulus menggapai impian. Susi, sebagai keturunan Tionghoa, nyatanya kerap mendapatkan ketidakadilan.

25 October 2019, 07:05

Mungkin tak banyak yang tahu bagaimana perjuangan seorang Susi Susanti meraih medali emas cabang olahraga bulutangkis pada pagelaran Olimpiade Barcelona 1992. Mungkin tak banyak juga yang tahu demi mencapai satu titik puncak, banyak rintangan yang harus dilewati oleh Susi, termasuk pergulatan batin melawan kecintaannya sendiri terhadap Indonesia. Dua poin tersebut akhirnya mengantar kita pada film Susi Susanti Love All, sebuah film biopik tentang legenda bulutangkis perempuan dari Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, Susi Susanti adalah sosok yang mengharumkan nama negeri ini di kancah internasional lewat kemampuannya dalam bulutangkis. Berkat Susi pula, nama Indonesia dikenal sebagai salah satu kontingen tangguh pada cabang olahraga yang memiliki nama lain badminton ini. Film Susi Susanti Love All menggali lebih dalam bagaimana sosok Susi Susanti terbentuk hingga menjadi seperti sekarang ini.

Susi Susanti Love All

Lewat film ini, Sim. F, mencoba menuturkan bagaimana kisah hidup Susi yang tak pernah mulus menggapai impian. Susi, sebagai keturunan Tionghoa, nyatanya kerap mendapatkan ketidakadilan di negerinya sendiri ketika era transisi dari masa pemerintahan Soeharto bergulir. Padahal jelas-jelas Susi sudah mengantar Indonesia meraih medali emas. Namun statusnya sebagai warga negara Indonesia masih belum aman. 

Ceritanya sendiri dibuka dengan betapa besar hubungan ayah dan anak yang digambarkan dengan baik oleh Iszur Muchtar dan Laura Basuki. Figur ayah ternyata memiliki peranan yang sangat penting dalam karier seorang Susi Susanti. Ia dengan kata-kata bijaknya selalu berhasil menenangkan Susi ketika sedang terjerumus dalam konflik batinnya. 

Film Susi Susanti Love All mungkin menjadi debut penyutradaraan bagi Sim. F. Namun ia mampu membuktikan diri sebagai sineas hebat dengan cara-cara pengambilan gambarnya yang apik didukung oleh sinematografi menawan. Salah satu hal yang paling saya suka dari film Susi Susanti adalah bagaimana tone warna ketika setting waktu diputar kembali ke masa lalu. Era 80-an terasa begitu kental. Belum lagi ketika adegan-adegan pertandingan diputar. Penonton serasa dibuat masuk ke dalam pertandingan asli di mana sensasi ketegangan begitu terasa.

Di segi scoring musik, Tony Merle, Aghi Narottama, dan Bemby Gusti dipercaya penuh mengerjakan tugasnya. Ketiga orang ini juga terlibat dalam pembuatan scoring Perempuan Tanah Jahanam yang sukses memacu adrenalin para penontonnya dengan musik-musik mencekam. 

Poster Susi Susanti Love All

Susi Susanti Love All merupakan sebuah paket lengkap yang menghadirkan elemen-elemen penting dari kehidupan sang mantan pebulutangkis. Kisah drama percintaannya dengan Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) menjadi bumbu pemanis setelah kepahitan hidup etnis Tionghoa di Indonesia mewarnai cerita di dalamnya. 

Namun sayangnya, Susi Susanti Love All juga bukan film terbaik yang pernah saya tonton. Kualitas akting beberapa pemainnya masih sangat terasa kaku. Lapisan drama di dalam ceritanya pun kurang begitu kuat. Tapi secara keseluruhan, film Susi Susanti Love All menuangkan nilai patriotisme yang tinggi dan tentunya baik untuk ditonton oleh masyarakat Indonesia. Di negeri yang penuh keanekaragaman ini, perbedaan satu sama lain memang harus dijaga dan dihargai. Bukannya itu juga yang membuat negara ini memiliki Bhinneka Tunggal Ika?

Nutshell

Sim. F menjalani debut penyutradaraannya dengan apik. Film Susi Susanti Love All bisa menjadi sebuah alternatif pilihan menonton yang pas apalagi menjelang Hari Sumpah Pemuda. Api semangat yang dikobarkan dalam film ini akan sangat terasa ketika disaksikan di layar lebar.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment