Siapkah Penonton Menyaksikan Film dengan Teknologi VR?

Siapkah Penonton Menyaksikan Film dengan Teknologi VR?

Siapkah Penonton Menyaksikan Film dengan Teknologi VR?

Film dengan fitur VR bisa menjadi sebuah lahan bermain baru studio-studio film besar dunia. Namun pertanyaannya sekarang adalah siapkah penonton menerima teknologi VR?

26 May 2019, 07:10

Kemajuan teknologi turut berperan serta dalam evolusi pembuatan sebuah film. Dari sinematografi menggunakan CGI, selama bertahun-tahun teknologi telah memberikan lebih banyak pilihan dan variasi baik bagi para pembuat film ataupun penontonnya.

Saat ini teknologi dalam dunia perfilman sedang merambah pada virtual reality atau biasa kita singkat sebagai VR. Para sutradara tak lagi terbatas pada cara-cara standar untuk membuat film. Cerita-cerita kini bisa dihidupkan dengan cara baru yang lebih nyata.

Pengalaman baru yang ditawarkan dalam virtual reality sangat menarik jika digabungkan dengan film. Tidak seperti film tradisional, di mana komposisi biasanya terbatas pada waktu yang diatur oleh seorang sutradara, sekarang visi sutradara bisa menjadi lebih jauh lagi. 

Sudah bukan rahasia lagi jika para sutradara, aktor, dan bahkan studio-studio besar kini mulai mendekati teknologi VR. Beberapa filmmaker sudah mulai bereksperimen dengan bagaimana mereka bisa menggunakan medium tersebut untuk menyampaikan narasi mereka. Mereka juga telah bereksperimen dengan berbagai genre, dari mulai animasi hingga film 360 derajat. 

Pada Agustus 2018, Vive Studios mengumumkan film Virtual Reality pertama yang dibuat dengan pengalaman 360 derajat. Film berjudul 7 Miracles tersebut kabarnya menghabiskan biaya produksi hingga mencapai USD3,5 juta atau setara dengan Rp50,2 milyar. 

7 Miracles pertama kali ditayangkan di Raindance Film Festival pada Oktober 2018 dan memenangkan penghargaan Spirit of Raindance. 

“Anda bisa melihat, bagaimana mukjizat Yesus Kristus dalam 360 derajat (mengubah air menjadi anggur dll). Film ini bisa memberikan pengalaman menonton yang relijius bagi orang-orang yang tepat,” ujar seorang penonton.

Langkah menggerakan medium film ke dalam Virtual Reality terbilang sebagai sebuah langkah pintar dari Vive Studios. Film dengan fitur seperti ini bisa menjadi sebuah peluang besar bagi beberapa studio untuk bermain dalam sebuah lahan baru. Namun pertanyaannya sekarang adalah apakah para penonton sudah siap untuk menerima film dengan teknologi VR?

Patut untuk diingat bahwa cara mengonsumsi film VR berbeda dari film tradisional. VR membutuhkan lebih banyak ruang untuk menonton dan jika durasinya mencapai dua atau tiga jam penuh dengan drama atau action, semuanya akan terasa berlebihan. Seperti halnya bermain game, pengalaman yang ingin ditawarkan oleh VR adalah untuk mengajak penggunanya kembali memainkannya terus menerus. Dengan demikian, durasi sebuah film harus bisa dibagi ke dalam beberapa bagian dengan cara yang tepat. 

Selama bertahun-tahun, kita sudah terbiasa untuk menjadi pengamat pasif ketika sedang menonton film. Kita hanya harus mengikuti narasi linear yang disuguhkan oleh sutradara. Dalam VR, penonton mendapatkan kebebasan sepenuhnya untuk memilih ke mana dan apa yang ingin mereka lihat, tentunya tetap dengan apa yang sutradara inginkan. Genre ini akan menjadi sebuah genre baru yang rumit namun bukan tak mungkin untuk diwujudkan di masa mendatang. 

Contoh film VR terbaik lainnya adalah Crow: The Legend, yang diproduseri oleh John Legend. Film ini merupakan interpretasi VR dari cerita rakyat Amerika asli. Film ini terbilang sukses memberikan pengalaman menonton yang berbeda bagi penonton. Durasinya yang hanya mencapai 22 menit juga membuat Crow: The Legend sangat sempurna untuk dinikmati oleh seseorang sambil duduk manis. Dari hasil penelitian, orang-orang akan mulai merasa bosan dengan VR ketika durasi sudah melebihi angka 30 menit.

Nutshell

Perkembangan teknologi turut berperan serta dalam kemajuan industri film. Setelah melewati berbagai teknologi canggih, industri film kini sedang mendekati teknologi Virtual Reality atau VR untuk dipadukan ke dalam sebuah film. Ide ini terbilang menarik karena memberikan kebebasan seutuhnya kepada para penonton untuk memilih apa dan ke mana ia ingin melihat. 

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment