Nia Dinata Jelaskan Metode Baru Penjurian Piala Citra

Nia Dinata Jelaskan Metode Baru Penjurian Piala Citra

Nia Dinata Jelaskan Metode Baru Penjurian Piala Citra

Nia Dinata menjelaskan metode baru yang digunakan oleh Komite Penjurian Festival Film Indonesia. Metode ini dinilainya sudah sangat kuat dan adil untuk memilah ratusan film menjadi short list.

15 November 2019, 07:05

Lelah dengan pertanyaan, 'Bagaiaman film ini bisa masuk?', 'Kenapa film ini gak masuk?' atau bahkan, 'Kok, film ini bisa masuk sih?' Komite Penjurian Festival Film Indonesia akhirnya membentuk sebuah metode baru. Tim yang diketuai oleh Nia Dinata ini lalu membuat tim kurator, yang terdiri dari tujuh orang yakni Nungki Kusumastuti, Lisabona Rahman, Hera Diani, Prima Rusdi, Tam Notosusanto, Makbul Mubarak dan Rangga Wisesa untuk membuat short list dari ratusan film yang terdaftar dalam FFI 2019. 

Ketujuh kurator ini bertanggung jawab atas terpilihnya 38 film yang dianggap layak masuk dalam nominasi Piala Citra 2019. Adapun menurut Nia, ke-38 film ini sudah lulus dari lima poin utama yang dijadikan persyaratan dari Komite Penjurian, yaitu kekuatan gagasan, orisinalitas, menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, efek teknis, dan estetika, Transparansi soal siapa kurator yang mengerucutkan film-film yang masuk menjadi nominasi ini dirasa Nia Dinata sebagai sebuah jawaban dari kekurangan penyelenggaraan FFI sebelum-sebelumnya.

Nia Dinata

"Kita gak pernah tahu FFI dari tahun 1954 sampai 2018 kemarin kuratornya siapa sehingga semua orang bingung kan pilihannya kok ini kok itu tapi kan sekarang udah dipagerin sama kurator bahwa yang dijuriin hanya 38 film. Nah, nanti dari nominasi ini seluruh membership FFI akan voting lagi melalui online vote untuk pemenang Piala Citranya," papar Nia Dinata.

Metode penjurian ini juga ternyata membuat FFI 2019 menjadi lebih spesial. Nia Dinata dan timnya merasa puas karena sekarang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dengan mudah. 

"Dari tahun 2017 metode ini tetapi saya kan baru masuk dari 2018 sampai 2020 jadi kami cuma memperbaiki sistem aja sih. Apa yang kurang, masa orang harus nonton ratusan film sih, kita harus bikin kisi-kisi, pakai kisi-kisi perfilman yang seluruh dunia pakai tapi kita tambahkan Bhinneka Tunggal Ikanya karena kan gak semua negara punya prinsip itu. Jadi baru tahun ini diperbaiki seperti itu," jelasnya.

Sementara itu ketika ditanya bagaiamana film yang menuai pro dan kontra seperti Kucumbu Tubuh Indahku tetap berkiprah di FFI, Nia menegaskan bahwa film Garin Nugroho itu sudah memenuhi 5 syarat utamanya. Di luar tugasnya sebagai Ketua Komite Penjurian, Nia juga sangat menyukai film ini karena mengangkat budaya Indonesia.

"Tapi kan itu Bhinneka Tunggal Ika banget, itu kan budaya Indonesia jadi saya kita dari Komite Penjurian dan Seleksi sama sekali tidak menghiraukan pro dan kontra. Karena film yang bagus itu justru film yang bisa menghasilkan diskusi publik, pro kontra itu biasa," tutupnya.

Nutshell

Nia Dinata sebagai Ketua Komite Penjurian menemukan formula yang pas untuk mengkurasi film yang terdaftar dalam Festival Film Indonesia 2019. 

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment