Mengingat Kembali Karya Satir David Fincher, Fight Club

Mengingat Kembali Karya Satir David Fincher, Fight Club

Mengingat Kembali Karya Satir David Fincher, Fight Club

Diangkat dari novel karya Chuck Palahniuk merupakan film satir legendaris yang mempertontonkan permasalahan sosial humanis yang sangat relevan hingga saat ini.

18 October 2019, 07:05

20 tahun yang lalu, Fight Club dirilis, dan tidak sedikit yang memaki film tersebut ketika pertama kali ditayangkan. Brad Pitt yang berperan sebagai Tyler Durden, Edward Norton sebagai tokoh utama dan narator yang tidak diberikan nama, dan juga Helena Bonham Carter yang berperan sebagai kekasih Tyler. 

Film tersebut memang bukan sebuah karya sinema yang mudah untuk dipahami, terlebih apabila kita belum terlalu familiar dengan karya aslinya. Chuck Palahniuk, sang novelis yang merilis buku tersebut di tahun 1996 memang menceritakan mengenai disfungsi moral yang terjadi pada manusia yang menjadi bagian dari dunia konsumerisme.

Fincher, ketika itu menyatakan ketertarikannya untuk menggarap film ini kemudian ia mengajak Jim Uhls untuk menulis naskah yang didasari dari novel cult milik Palahniuk tersebut. Uhls dan Fincher memiliki visi tersendiri terhadap film ini, mereka memang menginginkan agar Fight Club sebagai sebuah film yang mempertahankan tema homoerotic yang dimiliki Palahniuk, itu mengapa Tyler Durden dan sang narator memilki ketertarikan mental yang begitu mengikat. 

Ketika dirilis, film ini hanya mampu meraup 100 Juta Dollar dari penayangannya, dan dengan budget yang menyentuh angka 63 Juta Dollar, maka tidak heran kalau 20th Century Fox menganggap bahwa film ini merupakan sebuah kegagalan. Tapi ketika itu, market DVD sedang berkembang dengan sangat baik, dan ketika Fight Club dirilis, mereka merilisnya dengan format special packaging yang berhasil meng-amplify pesan yang ingin disampaikan film itu. 

Apa sebenarnya yang ingin disampaikan? film ini bercerita mengenai sang narator yang menderita insomnia dan menemukan salvation-nya mengunjungi support group kanker yang memberikan ia kesempatan untuk mengeluarkan keluh kesahnya. Namun semua itu berubah ketika ia bertemu Tyler Durden, sang alter ego yang hidup luar norma dan keteraturan, dan bagi sang narator, hidup seorang Tyler Durden merupakan sebuah hidup impian, dimana semua begitu bebas, dan semua begitu mungkin. 

Sang narator yang merupakan korban dari kapitalisme menjadi sebuah analogi yang menyenangkan dan menarik untuk diikuti, meskipun karakter ini terasa begitu kelam dan hilang arah, dan disinilah dimana Tyler Durden masuk ke dalam dunia sang narator.

Kedua tokoh ini kemudian menjalin hubungan yang terbilang unik, meskipun terkadang sedikit berbeda, namun Fincher menghadirkan narasi visual yang luar biasa. Dengan opening sequence yang ground breaking dan sinematografi yang unik dan berbeda, Fincher memberikan treatment yang menarik untuk pencinta film, gaya penyutradaraan yang berbeda ini membuat Fight Club begitu dicintai. Namun ketika pertama kali dirilis, film ini mendapatkan kritikan tajam dari begitu banyak kritikus film. 

Tapi setelah sekian tahun film ini dirilis Fight Club pantas mendapatkan tempat di hati para pencinta film bukan hanya karena sinematografi yang menarik, permainan yang apik dari Edward Norton dan Brad Pitt, dan juga bukan hanya karena soundtrack super keren yang diisi oleh The Dust Brothers. Namun karena film ini terasa begitu relevan, bahkan hingga masa sekarang dimana seorang manusia adalah kutukan dari keinginannya sendiri. Palahniuk menggambarkan ini melalui novelnya dengan narasi non-linear yang memikat untuk dibaca, dan Fincher berhasil menerjamahkannya menjadi sesuatu yang mudah dimengerti bagi audiens yang lebih luas.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment