Melihat Kegagalan JJ Abrams Menutup Saga Star Wars

Melihat Kegagalan JJ Abrams Menutup Saga Star Wars

Melihat Kegagalan JJ Abrams Menutup Saga Star Wars

The Rise Of Skywalker adalah salah satu satu Star Wars terburuk yang pernah ada.

23 January 2020, 07:05

Sebuah cerita legendaris, sebuah saga, melintas 3 generasi dengan karakter-karakter hidup yang juga menjadi pilar dari ceritanya. Star Wars bukan sebuah saga yang mudah untuk diakhiri. Berawal dengan kesuksesan trilogi pertama yang dimulai di dekade 70an, George Lucas sang kreator berhasil menciptakan sebuah universe yang relevan ditonton oleh siapa saja, dan ini adalah sebuah hal yang fantastis. 

Ketika Lucas memutuskan untuk memproduksi prekuel dari trilogi awal Star Wars di akhir dekade 90an, banyak fans yang menaruh harap besar bahwa mereka akan melihat kembali kemunculan karakter-karakter Star Wars yang telah begitu dicintai. Sebut saja karakter seperti RD-D2, C3PO, Chewbacca, Boba Fett, semuanya memiliki magnet karakter yang begitu kuat, dan apa yang terjadi ketika The Phantom Menace dirilis di dekade 90an? Lucas berhasil menyuguhkan sebuah cerita yang sebenarnya cukup kuat. Meskipun musuh yang dihadirkan juga berbeda, trilogi prekuel Star Wars cukup menarik untuk disaksikan, meskipun Episode II, The Phantom Menace adalah (menurut saya) Star Wars terburuk yang pernah ada, namun fans berhasil disuguhkan dengan runtutan cerita baru yang juga tidak kalah menarik. 

Kita bisa mengetahui asal usul Obi Wan Kenobi, bahkan berjumpa kembali dengan Yoda dan beberapa pahlawan Jedi lainnya dalam Jedi Council. Kisah yang telah begitu kita kenal sebelumnya, semakin diperdalam, begitu juga ketertarikan kita akan alur cerita serta penokohannya. 

Trilogi prekuel ini berhasil membangun legenda yang lebih kuat, memberikan back-story yang terbilang cukup baik dan semakin membuat para fan boys bahagia. Namun sebagai film, apakah trilogi prekuel tersebut bisa dibilang baik?

Ketika George Lucas menjual franchise Star Wars ke Disney, banyak sekali fans yang khawatir akan masa depan franchise favorit mereka, dan dengan hadirnya The Force Awakens, J.J abrams dapat dibilang sangat berhasil menciptakan sebuah 'pintu' bagi trilogi baru Star wars. Mengambil setting setelah The Return Of The Jedi, Abrams memiliki naluri yang kuat akan cerita Star Wars, dan Force Awakens menjadi salah satu film Disney tersukses. 

Namun ketika The Last Jedi dirilis, film yang digarap dan dikomandoi oleh Rian Johnson ini, mengambil arah yang berbeda, Johnson memiliki idealisme yang berbeda tentang bagaimana cerita saga ini harus berlanjut. Alih-alih mengandalkan karakter-karakter lama, Johnson memilih untuk 'melupakan masa lalu' dan melanjutkan saga legendaris ini dengan berusaha untuk mengenalkan karakter-karakter baru serta intrik baru. 

Sebut saja Luke Skywalker yang ditampilkan menghadapi Kylo Ren dengan ilmu Jedi-nya, namun akhirnya harus mati karena ia menghabiskan tenaga jedi-nya dalam pertarungan 'jarak jauh' ini. Dan bagaimana dengan karakter DJ yang diperankan oleh Benicio Del Toro? Karakter yang diceritakan berpura-pura membantu Rose dan Finn ini sebenarnya akan sangat menarik apabila dilanjutkan ceritanya di The Rise of Skywalker. 

Bukan hanya itu, masih banyak elemen cerita penting lainnya yang tidak dilanjutkan oleh Abrams, seperti anak-anak di Canto Bight yang ternyata memiliki kemampuan force dan digambarkan di adegan terakhir The Last Jedi, seolah memang akan memiliki jalan cerita di kelanjutan film besutan Rian Johnson ini. 

Hubungan kasih antara Rose dan Finn diacuhkan begitu saja oleh Abrams, sehingga membuat penokohan keduanya di The Rise of Skywalker terasa sangat canggung. Belum lagi perkembangan karakter Poe dan juga Rey yang dibuat berbeda sama sekali dengan apa yang telah dibayangkan Johnson. 

Namun apa yang membuat The Rise of Skywalker, bukan hanya mencoba melupakan semua esensi-esensi penting dalam The Last Jedi, namun kegagalan jauh lebih signifikan dari itu. The Rise of Skywalker terasa seperti sebuah film yang ditumpuk-tumpuk. Kehadiran kembali Palpatine, tidak mengundang tanya yang menarik, serta army of death star yang ia bentuk juga seolah hanya ada karena berusaha menampilkan sekumpulan musuh yang mengerikan, setelah kita diajak terpesona oleh pertempuran terakhir di The Last Jedi. 

The Rise of Skywalker terasa seperti sebuah film yang dipaksakan, dan semua karakter dipaksa kembali hadir untuk mengisi kekosongan, tanpa makna yang betul-betul menarik. Memang The Last Jedi memecah fans Star Wars menjadi dua, ada yang sangat menyukai arah baru yang diambil Johnson, namun ada juga yang mengatakan bahwa Disney telah merusak nama besar Star Wars, itu mengapa The Rise of Skywalker terasa seperti sebuah karya panik untuk memuaskan banyak pihak. 

Anda bisa saja masuk di salah satu yang betul-betul menyukai The Rise of Skywalker, atau betul-betul membencinya. Untuk saga sebesar Star Wars, tidak pernah ada kata biasa saja. 

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment