Kucumbu Tubuh Indahku - Review

Kucumbu Tubuh Indahku - Review

Reviews - Kucumbu Tubuh Indahku - Review

Coming of age of a Lengger dancer

16 April 2019, 14:54

Tubuh itu tidak abadi. Bisa sakit, lalu nantinya pasti akan mati. Tapi perjalanan mengenal tubuh dan diri sendiri dari tiap pribadi itu berbeda-beda, seperti halnya raut muka setiap orang. Garin Nugroho di film Kucumbu Tubuh Indahku ini terinspirasi dari kisah hidup Rianto, seorang penari Lengger, dan juga cerita-cerita sanggar tari yang banyak tersebar di Pulau Jawa. Inspirasi itu melahirkan karakter bernama Juno, yang saat kecil diperankan oleh Raditya Evandra, remaja oleh Muhammad Khan lalu dewasa diperankan oleh Rianto sendiri, yang juga sekaligus berperan sebagai narator. 

Setiap fase kehidupan dari Juno ada peristiwa penting yang membentuk hidupnya, yang membentuk pandangannya terhadap tubuh manusia, dan juga terhadap tubuhnya sendiri. Fase pertama adalah paparan seksualitas, saat ia melihat “lubang kehidupan” dan juga hal apa yang bisa dilakukan oleh manusia karena rasa cemburu. Fase kedua, Juno bertemu dengan guru tari yang bisa dikatakan berbeda dengan yang lain. Entah apa maksud sang guru, tapi akibat dari perbuatannya cukup fatal, baik bagi dirinya dan juga Juno sendiri 

Fase ketiga, ada unsur eksplorasi seksualitas saat  ia bertemu dengan petinju (Randy Pangalila) berbadan kekar.  Saat ini, Juno (Muhammad Khan) sudah tumbuh cukup dewasa. Profesinya sebagai penjahit juga membuatnya bisa memperhatikan tubuh manusia. Dan ia juga bagus dalam hal ini. Ia bisa mengukur tubuh manusia tanpa bantuan meteran. 

Fase keempat, Juno sudah mulai dewasa. Di fase ini, ia ikut bepergian dengan sebuah sanggar tari Lengger, dan ikut menjadi penampil tetap sambil juga menjadi penjahit bagi para anggotanya. Entah apakah karena semesta mendukung atau karena kebodohan dua orang pegawai Bupati, ia menjadi orang pilihan Bupati (Teuku Rifnu Wikana) yang sangat ingin menang dalam pemilihan umum berikutnya. Sang bupati rela menjalani ritual apapun, tapi sayangnya Juno yang tidak mau menjalani ritual ini. Penolakan yang berujung fatal kepada kelompok tarinya. 

Setiap perpindahan fase, muncul Juno dewasa yang bercerita tentang apa yang ia rasakan saat menjalani setiap fase kehidupan. Yang ia rasakan sekaligus ia salurkan dalam bentuk tari. Ayah Juno pergi meninggalkan dirinya saat kecil membuat hidup Juno berat. Lalu kita tidak pernah melihat ibunya di layar. Kehidupan yang berpindah-pindah juga tidak membuat hidup Juno lebih mudah. Tapi seperti apa kata buliknya, “yang namanya hidup itu cuman numpang ngintip urip. Pisah, pindah, mati, kuwi biasa.” Jadi Juno menjalani kehidupannya dengan apa adanya. 

Ini bukan sebuah film yang rumit untuk diikuti jalan ceritanya. Sebetulnya sederhana saja, perjalanan hidup seorang penari dalam menemukan jati diri dan seksualitasnya. Penyajiannya juga tidak ada sesuatu yang di luar kebiasaan. Gambar-gambar yang disajikan juga bagus di setiap adegannya. Garin Nugroho piawai mengarahkan para aktor-aktornya. Ia juga tidak membuat dirinya terjebak dalam sekat-sekat lingkungan atau domisili. Tidak ada detail kota yang disebut atau terlihat di film ini. Sementara bila melihat dari kesenian yang tersaji, Lengger yang berasal dari Banyumas dan Reog yang berasal dari Ponorogo juga terpisahkan jarak yang cukup jauh. Yang jelas memang terjadi di Jawa, hanya saja tidak disebut di kota apa. 

Lalu jangan lupa scoring dan soundtrack-nya. Mondo Gascaro membuat scoring dan lagu-lagu yang terdengar klasik, dari zaman Indonesia yang lampau. Beberapa lagu klasik dari Ismail Marzuki ia aransemen ulang, tidak untuk dimodernkan, tapi hanya membuatnya berbeda, dan memang terdengan sekali ciri khas Mondo di film ini.

Nutshell: Garin Nugroho mampu membuat sebuah cerita yang indah tentang perjalanan mengenal tubuh dan diri seorang penari. Selain penceritaan yang bagus, musik juga menjadi hal yang menyita perhatian di film ini. 

Rating 17+ Director Garin Nugroho Screenplay Garin Nugroho Cast Raditya Evandra, Muhammad Khan Running time 106 mins

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment