Kimo Stamboel Bicara Soal Masa Depan Ratu Ilmu Hitam

Kimo Stamboel Bicara Soal Masa Depan Ratu Ilmu Hitam

Kimo Stamboel Bicara Soal Masa Depan Ratu Ilmu Hitam

Kimo juga mengaku ingin menyutradarai film superhero, seperti Joko Anwar dan Timo Tjahjanto.

12 December 2019, 07:05

Kimo Stamboel adalah salah satu sutradara Indonesia yang terkenal berkat film-film horor garapannya yang tergolong sadis dan mengerikan. Baru-baru ini, film terbaru Kimo yang bertajuk Ratu Ilmu Hitam dirilis di berbagai bioskop di Indonesia.

Pada tim AllFilm, Kimo mau menceritakan apa langkah selanjutnya bagi film tersebut. Ia juga sempat memberi pendapat mengenai kemenangan besar Kucumbu Tubuh Indahku di FFI 2019 dan harapannya bisa menyutradarai film superhero, seperti penulis naskah Ratu Ilmu Hitam, Joko Anwar, dan rekan lamanya, Timo Tjahjanto.

Sebagai sutradara, menyangka tidak film Ratu Ilmu Hitam sesukses itu?
Kimo: Sejujurnya, saya dan Pak Sunil, produser, tidak pernah menyangka kalau film Ratu Ilmu Hitam itu akan menarik perhatian banyak orang. Karena kan yang versi aslinya, tahun 1981 itu sangat ekstrem dan gue enggak yakin juga bisa membawa konsep itu ke era sekatang. Tapi, Pak Sunil bilang, 'Enggak apa-apa, Mo. Jalan aja'. Ya sudah, dengan budget seadanya, saya diberi ruang cukup besar untuk menggarap film Ratu Ilmu Hitam dan Pak Sunil juga bisa dibilang awalnya hanya menjadikan ini sebagai proyek percobaan gitu, tanpa ekspektasi penonton berapa ribu. Ternyata, jika ada eksplorasi yang oke, sebuah film hasilnya juga akan oke dan enggak msngecewakan ya.

Apa rencana ke depan untuk film Ratu Ilmu Hitam?
Nantinya, kita mau buka screen di Malaysia, bulan Januari 2020 dan setelah itu akan mulai berjualan ke negara-negara lain juga gitu.

Tidak coba memasukkan Ratu Ilmu Hitam ke platform streaming digital?
Kalau di Indonesia sih sudah ada yang ambil, salah satu platform lah. Nanti tinggal di announce aja sama mereka, tapi gue juga enggak tahu di kontraknya untuk berapa tahun. Untuk di luar (negeri) ada juga, insyaAllah, mungkin baru tahun depan akan jalan. Karena gini, menurut gue memang sangat penting bagi sebuah film untuk masuk ke platform stream digital di era sekarang. Karena, film itu kan akhirnya tidak akan berakhir hanya di layar bioskop Indonesia aja. Sebagai sutradara juga, gue jadi bisa belajar dari komentar-komentar kritikus yang masuk. Sehingga, akhirnya gue bisa berkembang, kemudian nantinya industri juga kan pasti berkembang.

Melihat film-film Mas Kimo yang berani menampilkan unsur sadis, sepertinya Mas Kimo selalu dapat ruang yang besar atau merdeka dalam menuangkan imajinasi. Saat Kucumbu Tubuh Indahku menang 'Film Terbaik' di FFI, Ifa Ifansyah menyampaikan tentang kemerdekaan berkreativitas dalam membuat film di Indonesia. Menurut Mas Kimo, itu benar tidak?
Ya, ada benarnya dan ada tidaknya sih. Benarnya karena film itu kan temanya sangat tabu banget dan banyak orang yang takut untuk mengangkat. Tapi, akhirnya menang dan itu jadi bukti bahwa film seperti itu mulai punya ruang di Indonesia, meski masih dibatasi lah oleh oknum. Selain itu juga, menurut gue adanya Kucumbu Tubuh Indahku bisa merangsang filmmaker lain di Indonesia untuk membuat film, bahkan yang komersil, menjadi bagus gitu. Karena kan itu film arthouse ya dan dari situ kita bisa pelajari seperti apa membangun karakter, pengambilan angle, dan lain-lain. Ya, kalau film arthouse di Indonesia sudah banyak, pasti yang komersial kan akan mulai belajar dan bisa ikut bikin film yang keren. Contohnya, Korean movie deh. Dari segi cerita itu kan ngepop banget sebenernya. Tapi, art-nya kan oke banget. Itu sih harapan besar gue setelah Kucumbu Tubuh Indahku menang FFI.

Tapi, kan lembaga sensor di Indonesia tuh sering kali dianggap berlebihan. Artinya, sineas Indonesia juga belum sepenuhnya merdeka dong? 
Ya, kalau sensor sih mau enggak mau ya, karena kan diatur pemerintah. Intinya harus bisa adapt aja sih. Gue terus terang setiap bikin film akan berurusan dengan lembaga sensor, sampai akhirnya gue membangun komunikasi sama mereka. Setelah berkomunikasi, gue pada akhirnya appriciate pekerjaan mereka. Karena ternyata kerjaan lembaga sensor film itu tuh enggak gampang dan mereka juga ogah kasih banyak sensor. Masalahnya, ada aturam dari pemerintah. Lagipula, gue pun masih belum tahu akan seperti apa jadinya kalau Indonesia enggak ada lembaga sensor film. Jadi ya, filmmakernya aja yang adapt lah.

Gundala, film yang disturadarai oleh penulis naskah Ratu Ilmu Hitam, Joko Anwar, juga menang tiga Piala Citra. Gimana melihat keberhasilan itu?
Wah keren banget! Asli, gue bangga sama Joko. Keren, Man! Asli itu keren.

Enggak iri atau punya keinginan untuk menggarap film superhero juga, Mas?
Pengen dong (sutradarai film superhero). Apalagi, Timo (Tjahjanto), rekan gue sebagai Mo Brothers, juga kan bikin Si Buta Dari Gua Hantu tuh. Tertarik banget gue, cuma belum diajak aja.

Kalau di kasih kesempatan garap film adaptasi komik superhero Indonesia, maunya menggarap siapa?
Kalau gue sih jujur, enggak kepikiran siapanya. Buat gue, siapa aja sih oke, tapi yang penting karakternya menarik dan  punya satu sisi cerita yang bisa diceritakan.

Selain karena mau ikutan jejak Joko dan Timo, apa alasan Mas Kimo tertarik menggarap film superhero?
Sebagai filmmaker, gue merasanya semua skill akan terpakai saat bikin film superheri. Karena, gue harus bisa membangun adegan action yang keren, VFX juga harus oke, development character-nya, editing film-nya, itu kan banyak pembelajaran ya. Terus, ceritanya juga kan harus inspiring dan membawa pesan. Ya, ada sih superhero yang nyeleneh, tapi mayoritas kan begitu.

Nutshell:
Kimo Stamboel baru saja sukses merilis film Ratu Ilmu Hitam. Pada tim AllFilm, ia pun mau menceritakan apa masa depan dari film tersebut. Selain itu, Kimo juga menceritakan harapan dan mimpi bisa menggarap film superhero.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment