Jogja-NETPAC Asian Film Festival Digelar dengan Format Berbeda

Jogja-NETPAC Asian Film Festival Digelar dengan Format Berbeda

Jogja-NETPAC Asian Film Festival Digelar dengan Format Berbeda

Ada total 107 film dari 23 negara yang diputar di festival tersebut.

21 October 2019, 07:05

Tahun ini, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali digelar di Yogyakarta, tepatnya pada 19 November hingga 23 November.
Di usia ke-14 tahun, JAFF mengusung tema Revival yang bertujuan untuk merefleksikan dan mengangkat kembali kekayaan sejarah dan peradaban Asia.

“Kami ingin mengajak para penonton untuk memilah manakah warisan dari budaya Barat yang mesti di-Asia-kan dan manakah unsur-unsur sejarah Asia yang mesti digali dan dilestarikan. Pada dasarnya, kami berharap Bangsa Asia sadar bahwa mereka mesti lebih banyak belajar dengan sesamanya ketimbang pada masyarakat Barat," ungkap Budi 
Irawanto, presiden JAFF, melalui pernyataan tertulis yang AllFilm terima pada Kamis (17/10).

JAFF

Berbeda dari tahun lalu, JAFF 2019 akan hanya berpusat di satu kawasan saja, yakni Empire XXI Yogyakarta. Sebanyak 107 film dari 23 negara akan ditayangkan dalam program pemutaran JAFF. Program tersebut akan dibagi menjadi dua, yakni program kompetisi dan non-kompetisi. Di program kompetisi, film-film tersebut akan memperbutkan penghargaan dari beberapa kategori, yakni Asian Perspectives, Asian Feature, Light of Asia, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema.

"Pemilihan film di setiap program JAFF tahun ini dilakukan dengan melihat banyak pertimbangan. Bukan hanya teknis yang bagus atau penceritaan yang baik, melainkan juga dari perspektif bagaimana film bisa membawa sikap dan argumen yang jelas dari sebuah peristiwa yang terjadi dari sudut pabdabf pembuatnya mengenai banyak hal-hal yang dibawa ke dalam film tersebut," ujar Reza Fahri, program director JAFF 2019.

JAFF

JAFF juga siap untuk ikut memperingati 100 tahun sinema Bengali dengan menayangkan sejumlah karya terbaik dari sinema Bengali yang sudah diproduksi sejak tahun 1919. Ifa Ifansyah, direktur festival JAFF, mengaku tertarik untuk melakukan hal ini untuk membuktikan bahwa Asia sudah punya industri film yang mumpuni dan tak kalah dari industri Barat sejak berabad-abad lalu.

Selain program pemutaran film, JAFF 2019 akan menyuguhkan beberapa program edukasi, yakni Art for Children, Public Lecture, dan Forum Komunitas. "Tahun ini, kami berkolaborasi dengan Tempa sebagai seniman yang membuat artwork festival," ujar Ajish Dibyo, Executive Director JAFF.

"Selain itu, ada aktivasi program edukasi seni untuk anak-anak dalam bentuk membuat kolase dan stempel sebagai upaya JAFF menumbuhkan minat seni sedari dini," tambahnya.

Di Program JAFF Education, secara khusus dihadirikan salah satu rigging gaffer profesional asal New Zealand, Sean O'Neill. Seperti diketahui, Sean O'Neill ikut terlibat dalam departemen sinematografi beberapa film Hollywood, seperti The Great Wall (2016), Alien: Covenant (2017), dan Mulan (2020).

Nutshell:
Tahun ini, JAFF kembali digelar di Empire XXI, Yogyakarta pada 19 sampai 23 November. Ada total 107 film dari 23 negara yang diputar di festival tersebut. Beberapa film akan berjuang memperebutkan penghargaan dari beberapa kategori, yakni Asian Perspectives, Asian Feature, Light of Asia, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema. JAFF 2019 pun menyuguhkan beberapa program edukasi, yakni Art for Children, Public Lecture, dan Forum Komunitas.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment