IT : Chapter Two: Menegangkan dan Seru, Meski Terlalu Panjang

IT : Chapter Two: Menegangkan dan Seru, Meski Terlalu Panjang

Reviews - IT : Chapter Two: Menegangkan dan Seru, Meski Terlalu Panjang

Sekuel dari novel legendaris Stephen King ini tetap memiliki daya pikat yang luar biasa

05 September 2019, 07:05

Sukses dengan IT (2017), Warner Bros merilis sequel-nya, yakni IT : Chapter Two, pada 4 September di Indonesia. Andy Muschietti masih bertugas sebagai sutradara, sedangkan aktor Bill Skarsgard tetap menjadi pilihan utama untuk memerankan tokoh Pennywise, badut mengerikan yang meneror kota Derry, Maine, Amerika Serikat.

Di film pertama, Losers Club yang beranggotakan Bill Denbrough, Richie Tozier, Eddie Kaspbrak, Stan Uris, Ben Hanscom, Beverly Marsh, dan Mike Hanlon berhasil mengalahkan monster IT dengan wujud Pennywise dan membuatnya berhenti meneror kota Derry pada 1988. Mereka bertujuh pada akhirnya membuat sebuah perjanjian darah untuk kembali ke Derry jika di masa depan Pennywise kembali muncul.

Pennywise

Benar saja, Pennywise yang hanya tertidur dan tidak benar-benar mati kembali menebar teror 27 tahun kemudian. Sebagai satu-satunya anggota Losers Club yang masih tinggal di Derry, Mike dewasa (Isaiah Mustafa), memberi kabar pada enam temannya yang telah tinggal terpisah-pisah.

Karena sudah bersumpah, Mike bersama Bill (James McAvoy), Beverly (Jessica Chastain), Ben (Jay Ryan), Richie (Bill Hader), Eddie (James Ransone), dan Stanley (Andy Bean) mau tak mau harus bersatu untuk sekali lagi mengalahkan badut Pennywise. Bukan cuma mengalahkan, tekad mereka sudah bulat untuk membunuhnya secara benar agar tak ada lagi teror mengerikan yang menimpa masyarakat Derry.

Losers Club

Untuk mengetahui detail perjuangan para Losers Club mengalahkan IT, silakan tonton sendiri filmnya. Namun, memang akan ditampilkan beberapa adegan flashback dan para aktor muda di film IT (2017) pun kembali dihadirkan. Ya, memang IT dan IT: Chapter Two hanya berjarak dua tahun, namun kehadiran mereka membawa sensasi menyenangkan tersendiri bagi beberapa orang.

Berbagai adegan horor di film ini pun terasa lebih mengerikan dan menegangkan ketimbang film IT (2017), mungkin karena di sini Pennywise dan bentuk-bentuk lain makhluk IT berhadapan dengan orang dewasa yang tentunya sudah lebih kuat dan berani. Ada pula berbagai adegan gore menjijikkan. Hal ini tentu seru bagi siapa saja yang menggemari film horror thriller bersimbah darah dan potongan tubuh yang tercerai berai.

IT: Chapter Two

Kisah petualangan para anggota Losers Club di film IT: Chapter Two juga terasa lebih memuaskan. Sebab, ada berbagai potongan flashback yang seharusnya terjadi di IT (2017), namun tidak ditayangkan dalam film. Artinya, film setidaknya memperlihatkan dua petualangan dari semua anggota Losers Club, sewaktu masih anak-anak dan saat sudah dewasa. Ini pun membuat film IT: Chapter Two terasa lebih detail dan rinci.

Satu poin plus lain datang dari unsur komedi yang ditawarkan. Disela-sela rasa takut yang muncul ketika IT hadir secara mengejutkan di layar, ada kekonyolan-kekonyolan dari sisi humanis dua tokoh, Richie dan Eddie.

Di film IT (2017), Richie kecil sudah amat lucu dam di film ini ia malah semakin konyol, juga jago membuat berbagai guyonan yang kadang dilontarkan di waktu yang tak tepat. Begitu pula dengan Eddie yang di film pertama diceritakan sebagai anak mama dan kerap mengidap berbagai jenis penyakit. Di film kedua, dua hal itu masih terjadi dan tentu akan sangat lucu melihat pria dewasa merasa takut pada istri dan kuman, bukan?

Konflik batin, unsur percintaan, dan masalah personal setiap tokoh juga dibeberkan secara gamblang dalam film. Ya, semua detail tersebut adalah buah dari film IT: Chapter Two yang berdurasi hampir tiga jam. Artinya, film ini tidak melulu terasa menegangkan dan seram kok! Ada unsur-unsur lain yang juga dibubuhkan.

Pennywise

Permasalahan dari film IT: Chapter Two pada dasarnya datang dari durasi yang terlalu panjang. Memang sih, novel IT karya Stephen King yang diadaptasi sangat tebal dan memiliki alur cerita yang detail. Namun, durasi hampir tiga jam terasa terlalu panjang, sehingga ada beberapa bagian yang terasa kurang seru dan membosankan.

Hal ini pun membuat film IT (2017) dan IT: Chapter Two tidak berimbang. Seharusnya, beberapa bagian flashback dibiarkan saja terjadi di film pertama, agar film IT: Chapter Two tidak terlalu panjang. Atau, film bisa dibuat dengan format trilogi yang lebih aman dan kemungkinan besar, lebih memuaskan.

Namun, Muschietti tetap perlu diberi penghormatan karena berani memasukkan easter eggs menarik dari berbagai film dan serial ternama era 80an. Hal itu jadi bumbu yang patut diacungi jempol, khususnya oleh mereka-mereka yang tumbuh di era 80an.

Nutshell:
Dari segi cerita film IT: Chapter Two terasa lebih rinci dan padat ketimbang IT (2017). Adegan laga, horor jumpscare, dan petualangan di film ini juga terasa seru. Masalahnya, durasi film ini terlalu panjang, sehingga ada beberapa bagian yang terasa membosankan.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment