Bong Joon-ho, Auteur Jenius dari Kor-Sel

Bong Joon-ho, Auteur Jenius dari Kor-Sel

Bong Joon-ho, Auteur Jenius dari Kor-Sel

Di negeri asalnya, nama Bong Joon-ho tak hanya dikenal oleh para cinephile tapi juga orang awam. Apalagi kini, setelah ia memenangkan Palme d’Or untuk film terakhir yang ia rilis di Cannes, Parasit

28 June 2019, 07:05




Tak heran memang bila mengingat media massa Kor-Sel begitu mengelu-elukan sang sutradara mengingat saat ini ia dianggap sebagai salah satu sutradara terbaik Negeri Ginseng. Lahir di kota Daegu pada 14 September 1969, Bong memiliki ayah yang berprofesi sebagai seorang desainer dan kakek yang dikenal sebagai salah satu penulis yang cukup disegani. Tumbuh di tengah lingkungan keluarga yang gemar berkesenian, ia mulai memiliki ketertarikan pada sinema sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.

Pada akhir 1980-an, Bong yang telah berkuliah di jurusan sosiologi tak kehilangan minatnya pada dunia film dan aktif berkegiatan sebagai salah satu anggota klub film Yonsei University. Beberapa sutradara yang begitu ia akrabi karyanya pada saat itu adalah Shohei Imamura, Edward Yang dan Hou Hsiao-hsien. Saking gandrungnya, Bong berulangkali menonton film-film karya ketiga auteur idolanya demi mempelajari teknik-teknik yang mereka gunakan.

Di awal 90-an, setelah lulus dari kuliah sosiologinya, Bong mengikuti program satu tahun di Korean Academy of Film Arts, tempat dimana ia pertama kalinya menggunakan kamera 16mm untuk membuat film pendek perdana. Dua film pendek yang ia buat untuk syarat kelulusannya, Memory of My Frame dan Incoherence diundang untuk tayang di ajanng Vancouver dan Hong Kong International Film Festival.

Pasca merampungkan studi filmnya, selama lima tahun Bong bekerja untuk sejumlah sutradara yang telah lebih dulu berkecimpung di industri film, dimana ia ambil andil untuk penulisan skenario untuk film kompilasi Seven Reasons Why Beer is Better Than My Lover (1996), sebagai penulis skenario dan asisten sutradara untuk film debut Park Ki-yong, Motel Cactus (1997) dan menjadi satu dari empat penulis yang berkolaborasi untuk skenario Phantom the Submarine (1999). 

Namun, baru setelah Memories of Murder rilis pada 2003, Bong meraih popularitas dan mulai dilirik oleh penonton awam. Bong kerap menghadirkan beragam karya berkualitas yang sarat dengan isu sosial yang ia adaptasi dari kisah nyata maupun fiksi. Berikut adalah lima flm terbaik dari Bong Joon-ho yang Allfilm rekomendasikan untuk kalian tonton:

Memories of Murder

Memories of Murder adalah karya yang membuat nama Bong Joon-ho diperhitungkan sebagai salah satu sutradara terbaik Korea Selatan. Dibintangi oleh Song Kang-ho, film ini membuat Bong membawa pulang penghargaan untuk kategori ‘Best Director’ dari berbagai ajang penghargaan film prestisius Negeri Ginseng.

Diangkat dari kisah nyata mengenai pembunuhan berantai terhadap para wanita yang terjadi di daerah Hwaseong, Gyeonggi pada tahun 1986 sampai 1991, Memories of Murder mengisahkan upaya sekelompok polisi dalam membongkar kejahatan itu meski dihadapkan dengan keterbatasan petunjuk dan alat.

Mother

Dirilis pada 2009, Mother adalah sebuah film thriller tentang seorang ibu yang berusaha keras membela sang anak. Ibu (Kim Hye Ja) adalah sosok yang sangat protektif terhadap anak lelakinya, Do Joon (diperankan oleh Won Bin), pemuda yang tidak begitu pintar dan memiliki masalah emosi yang membuatnya kerap meledak-ledak. Konflik memuncak saat Do Joon dituduh membunuh seorang gadis di tempat keluarga mereka tinggal. Dengan menggunakan segala cara, sang ibu pun berusaha membela sang buah hati.

Snowpiercer

Berikutnya, pada 2013, Bong Joon Ho merilis Snowpiercer, sebuah film bergenre sci-fi yang diadaptasi dari novel grafis asal Prancis berjudul, Le Transperceneige. Menjadi karya perdana sang auteur yang dibuat dalam bahasa Inggris, film produksi Korea Selatan-Cekoslovakia ini dibintangi oleh sejumlah bintang besar Hollywood seperti Chris Evans, Song Kang-ho, Tilda Swinton sampai Go Ah-sung.

Berkisah mengenai sistem kelas sosial yang diterapkan dalam sebuah kereta bernama Snowpiercer, dimana kereta tersebut diilustrasikan sebagai satu-satunya tempat yang bisa ditinggali di bumi yang telah gagal memerangi global warming dan tengah menghadapi zaman es kedua. PAda 2013, film ini disebut oleh The Hollywood Reporter sebagai film Korea Selatan dengan bujet produksi terbesar sepanjang masa, yakni 43 miliar won (atau sekitar Rp 520 miliar rupiah bila dikalkulasikan dengan kurs sekarang).

Okja

Kembali mencoba memberikan nuansa baru pada karyanya, pada 2017, Bong Joon Ho merilis Okja, sebuah film fantasi yang memperoleh investasi dana yang cukup besar dari perusahaan layanan streaming populer asal Amerika Serikat, Netflix. 

Film ini mengisahkan perjalanan gadis petani bernama Mija (Ahn Seo Hyun) dalam usaha menyelamatkan babi peliharaannya, Okja, yang ternyata merupakan produk rekayasa genetika yang diciptakan melalui pembiakan secara khusus oleh perusahaan bernama Miranda Corporation. Konflik muncul saat perusahaan yang membuat Okja berusaha mengambil kembali babi itu dari Mija. 

Parasite

Untuk yang satu ini reviewnya bisa kalian baca disini.

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment