Bloodride, Suguhan Horror Bagi Para Technophiles

Bloodride, Suguhan Horror Bagi Para Technophiles

Reviews - Bloodride, Suguhan Horror Bagi Para Technophiles

Antologi horor bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk diikuti, dan Bloodride adalah pilihan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

17 April 2020, 13:05

Ketika Bloodride (Bloodtur) mulai ditayangkan di Netflix 13 Maret lalu, hampir tidak ada yang memperhatikannya, semua terlalu teralih dengan season baru Ozark dan juga dokumenter-dokumenter baru Netflix seperti Tiger King dan banyak lagi lainnya. 

Namun sebenarnya Bloodride menyimpan begitu banyak momen mengerikan bagi yang menyukai horror pendek yang lumayan bermain-main dengan narasi logika. 

Setiap episode dari Bloodride bercerita mengenai karakter yang berbeda, dan meskipun mereka semuanya tersatukan dengan opening sequence yang menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu penumpang dari bus malam yang entah menuju ke mana, para penumpang ini memiliki ceritanya masing-masing, dan disinilah kekuatan Bloodride sebagai sebuah antologi horror. 

Kita diajak berkenalan dengan tiga orang kakak beradik yang mengasingkan diri ke kabin milik ayah mereka, seorang istri yang percaya bahwa pengorbanan kepada viking God akan memberikan ia kekayaan yang tidak terbatas, seorang penulis muda yang harus menjalani kehidupan yang ia tulis sendiri, dan banyak lagi lainnya. 

berbeda dengan cara film horror yang menyajikan plot twist di 90 menit, Bloodride, dengan durasinya yang singkat, 30 menit, memiliki medium yang lebih luas dan bebas dalam mengesksplorasi karakter-karakter yang ada dalam bus tersebut. Di setiap episode kita dihadirkan dengan cerita baru yang morbid dan cukup mengerikan. 

Formula ini terbukti efektif. Dengan situasi karantina yang sedang kita alami sekarang, claustrophobia yang begitu nyata membuat menit demi menit dari setiap episode yang dihadirkan seolah tidak membuang-buang waktu, dan terasa begitu menyenangkan untuk diikuti. 

Elemen dark humour pun juga terselip melalui episode-episode Bloodride, dan ini terbukti efektif sebagai penyeimbang dari cerita horror dan thriller yang dihadirkan. Dan bagi yang ingin menyaksikan sesuatu yang baru Bloodride bisa menjadi opsi yang tepat, dan dari sekian banyak episode yang dihadirkan bersyukur tidak ada cerita mengenai zombie, karena sepertinya kita semua sudah cukup muak dengan cerita mengenai post-apocalypse dimana zombie berkeliaran. 

Nutshell :

Sebagai sebuah horror anthology, Bloodride terlalu sayang untuk dilewatkan. Dan ini menjadi bukti bahwa Scandinavian thriller memang sedang menguasai pop culture dunia pada masa ini. 

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment