Avengers: Endgame – Review

Avengers: Endgame – Review

Reviews - Avengers: Endgame – Review

They run, they fight, they never give up

25 April 2019, 19:54

!!!Spoiler Alert!!!



Setahun kita menunggu kelanjutan kisah yang dimulai Marvel Studios di Avengers: Infinity War. Setelah Thanos menang dan berhasil menghilangkan separuh makhluk hidup dari jagat raya, bagaimana Avengers bisa bangkit dari keterpurukan? Ternyata jawabannya butuh 5 tahun dan seorang Ant-Man untuk dilaksanakan.

Tapi pertama-tama kita disuguhkan dulu sebuah gambaran yang suram dari dunia tanpa separuh populasinya. Di bagian awal ini kita melihat Avengers yang sebelumnya belum pernah terlihat – mereka jatuh ke titik terendah dalam hidup mereka. Dan itu menjadi pertanda betapa buruknya situasi mereka. Kalau seorang Black Widow (Scarlett Johansson) bisa didorong sampai ke ambang batas kesabarannya dan bahkan terlihat menitikkan air mata, berarti dunia ini benar-benar sedang hancur. Tidak membantu juga bahwa Tony Stark, alias Iron Man (Robert Downey Jr.), belum benar-benar melakukan rekonsiliasi dengan Steve Rogers atau Captain America (Chris Evans). Satu upaya terakhir untuk memperbaiki keadaan malah membuat Thor (Chris Hemsworth) semakin tenggelam dalam kegilaan. Dunia terus berputar, hidup terus berlanjut, tapi tidak bagi para Avengers… sampai akhirnya sang penyelamat tiba.

Semua teori yang telah beredar di internet sebelumnya itu benar: bahwa Ant-Man dan Quantum Realm di mana karakter milik Paul Rudd itu tersekap di akhir Ant-Man and the Wasp menjadi kunci dari solusi yang dicari oleh sebuah kelompok Avengers yang separuh putus asa dan separuhnya lagi mencoba untuk tidak peduli. Dan ini dia plot rahasia Marvel yang tidak pernah dibocorkan sampai saat ini: para Avengers harus kembali ke masa lalu untuk merebut keenam Infinity Stones sebelum Thanos mengoleksi mereka dan menggunakan Infinity Gauntlet untuk mengembalikan mereka yang telah jadi debu. 

Tapi tentu saja ada aturannya, yaitu timeline tidak bisa diubah, Thanos tidak bisa dibunuh di masa lalu, dan mereka harus mengembalikan Infinity Stones itu lagi setelah dipakai ke era aslinya dari mana mereka dicuri.

Tidak disangka-sangka, unsur time travel ini – yang sebenarnya cukup memusingkan dan bahkan diolok-olok oleh para karakter filmnya sendiri – menjadi hal yang membuat Endgame begitu entertaining. Banyak hal di film ini yang bisa dibahas, yang juga seru dan heboh, yang membuat kita girang dan bersorak dan bertepuk tangan selama menonton, tapi bagian time travel di babak kedua film arahan Joe dan Anthony Russo itulah, yang dijuluki Time Heist, yang paling apik dibuat. Pasalnya, para Avengers kembali ke masa lalu yang tidak sembarangan. Mereka memilih momen-momen spesifik dari banyak film yang telah dirilis di masa lalu - The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013) dan Guardians Of The Galaxy (2014). 

Mereka masuk ke adegan-adegan yang sudah familiar di mata penonton sebelumnya. Mereka bertemu dengan figur-figur masa lalu yang saat itu masih berada dalam puncak kehidupan mereka. Tidak hanya Russo bersaudara berhasil membuat ekstensi adegan yang mulus dan halus transisinya dari adegan asli di film terdahulunya, duo penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely memasukkan dialog yang kocak, hangat dan bermakna. Letak keindahannya bukan hanya di bertaburnya bintang tamu yang datang kembali memerankan karakter-karakter mereka, dalam screentime yang juga tidak singkat, tapi di fakta bahwa tim filmmaker-nya, dalam upaya mereka untuk mengakhiri sebuah era dengan cara yang layak, masih bisa mengingatkan kita kenapa film-film Marvel dan karakter-karakternya sangat kita cintai. Pada akhirnya, emosi kita semakin digugah dan kita dibuat semakin tidak rela berpisah dengan dunia yang sudah sangat lekat di kesadaran budaya kita saat ini.

Kunci dari apiknya Endgame sebagai sebuah film ‘terakhir’ di sebuah fase adalah di eksekusinya yang tidak terduga. Di kala kita berharap para Avengers hanya akan baku hantam saja dengan Thanos, kita justru disuguhkan drama keluarga yang manis dan menyentuh. Di saat kita berharap Marvel akan sekencang mungkin menjalankan action, kita diberi pengembangan karakter yang komplet dan mengharukan. Bahkan di babak ketiga pun, di mana kita sudah tahu Joe dan Anthony telah menyiapkan perang akbar yang tidak ada duanya, mereka masih bisa memasukkan beberapa kejutan. Ketika frase “Avengers, assemble” keluar dari salah satu tokoh, momen itu langsung membayar semua build-up yang telah dikonstruksi dengan rapi, bukan hanya dari awal film, tapi sejak Iron Man pertama kali terbang ke layar pada 2008. 

Jika setelah ini tidak ada lagi film produksi Marvel Studios atau film lain yang menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe, itu tidak apa-apa. Dari Iron Man hingga Avengers: Endgame, dunia sinematis yang satu ini sudah berevolusi dengan lengkap. Untungnya bagi kita semua, perjalanan para superhero ini – kecuali mereka yang tiba di akhir hayatnya dalam Endgame – masih akan berlanjut di berbagai media. Dan kalau ada musuh yang lebih besar lagi dari Thanos, kami yakin Avengers generasi baru akan siap menghadapinya. Fans pun akan menantikannya. Amanda Aayusya



Nutshell… Sebuah perayaan terakhir yang megah yang dieksekusi dengan brilian oleh Russo bersaudara di bawah pimpinan Kevin Feige sebagai kepala kreatifnya. Tanpa pernah kehilangan momentum sedikitpun, Endgame layak dicap dan dikenang sebagai film penutup terdahsyat yang pernah ada.



Rating PG-13 Director Joe & Anthony Russo Screenplay Christopher Markus & Stephen McFeely Cast Robert Downey Jr, Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Mark Ruffalo, Jeremy Renner, Paul Rudd, Don Cheadle, Karen Gillan, Brie Larson Running time 181 mins

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment