Ave Maryam

Ave Maryam

Reviews - Ave Maryam

Forbidden love

20 April 2019, 07:54

Oleh: Rasyid Baihaqi

“Jika surga saja belum pasti buat saya, untuk apa saya mengurusi nerakamu,” ujar Suster Monic (Tutie Kirana) kepada Suster Maryam (Maudy Koesnaidi). Perkataan itu semakin membuat Maryam kalut. Pasalnya, hubungannya dengan Romo Yosef (Chicco Jerikho) bertentangan dengan pilihan hidup Maryam. Sebagai seorang biarawati, ia terikat kaul yang tidak memperbolehkannya menikah. Pergolakan batin Maryam itulah yang menjadi fokus utama dalam film Ave Maryam karya Ertanto Robby Soediskam.

Narasi cinta terlarang memang sudah sering dibicarakan dalam film Indonesia, sebut saja Cin(T)a (2009) karya Sammaria Simanjuntak dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010) karya Benni Setiawan. Dua film tersebut menitikberatkan pada perbedaan agama di antara dua tokoh utamanya. Sementara Ave Maryam berbeda, Suster Maryam dan Romo Yosef sama-sama menganut agama katolik. Namun keduanya tak bisa bersatu karena terikat pada pilihan hidup masing-masing.

Setiap hari Maryam bekerja mengurusi para suster lansia, mulai dari memandikan, memakaikan baju, menyiapkan makanan, hingga memberikan obat sesuai jadwal. Kesehariannya itu menggambarkan Maryam sebagai pribadi yang kalem dan pendiam. Karakter Maryam juga didukung lewat gambar yang statis dan atmosfer suara yang tenang. Alur cerita pun bergerak pelan mengikuti kegiatan rutin Maryam. Semua berjalan semestinya sampai Romo Yosef datang.

Karakter Yosef dan Maryam bisa dibilang berbeda satu sama lain. Yosef pandai bercakap, sedangkan Maryam bicara seperlunya. Begitu pun dengan hobinya masing-masing; Yosef suka musik, sementara Maryam suka membaca buku. Perbedaan tersebut tak menghalangi keduanya untuk menjalin hubungan. Awal mulanya ketika Yosef pertama kali mengajak Maryam mencari hujan. Namun sayang ajakan tersebut ditolak tegas oleh Maryam. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya Yosef berhasil mengajak Maryam pergi kencan.

Gagasan yang menarik perlu diiringi dengan karakternya yang kuat. Dua tokoh utama film ini sebenarnya sudah menarik tapi karakternya masih lemah. Sebab tidak ada penjelasan lebih dalam mengenai latar belakang karakternya. Hal ini berhubungan dengan beberapa adegan yang terkesan dadakan, tanpa sebab-akibat yang jelas. Salah satu yang paling kentara adalah tidak adanya tanda-tanda ketertarikan satu sama lain sebelumnya. Tiba-tiba saja Romo Yosef mengajak Suster Maryam mencari hujan. Setelah itu baru keduanya saling curi pandang.

Di sisi lain, sutradara Ertanto Robby dengan baik menggunakan hujan dan cermin sebagai alat bantu bercerita. Adegan dengan latar hujan selalu menjadi penanda adanya suatu peristiwa penting. Misalnya pada adegan perjumpaan pertama antara Maryam dan Yosef. Saat hujan deras, Yosef mengantar Suster Monic untuk kembali ke biara. Kemudian Yosef berkenalan dengan Maryam. Sementara penggunaan cermin dapat menggambarkan pergulatan hati Maryam dengan efektif. Ada beberapa adegan Maryam merenung di kamar yang diambil dari pantulan cermin.

Maudy Koesnaidi berhasil menampilkan performa terbaiknya sebagai Maryam. Aktingnya mampu menyampaikan kegalauan yang tengah dialami sang tokoh utama. Melalui tatapan matanya, Maudy bisa bicara lebih banyak ketimbang kata-kata. Apalagi saat adegan perayaan ulang tahun Maryam ke-40, ia bisa memperlihatkan suasana hati senang dan sedih dalam satu waktu. Begitu juga di adegan akhir, Maudy sukses mengantarkan penonton mencapai klimaksnya.

Selain Maudy, Chicco Jerikho dan Tutie Kirana sebagai tokoh pendukung juga tampil maksimal. Chicco memerankan Romo Yosef sebagai penyuka musik dan konduktor orkestra dengan baik. Peran Chicco sebagai Romo Yosef sekilas mirip dengan Ben dalam film Filosofi Kopi sebagai tokoh yang berani dan idealis. Belum lagi dengan rambut panjang acak-acakannya yang serupa. Sementara Tutie Kirana yang dalam cerita menjadi tokoh antagonis mampu menarik simpati penonton.

Sementara itu untuk urusan gambar, kerja Ical Tanjung sebagai penata sinematografi patut diacungi jempol. Seluruh gambarnya tampak sempurna dengan pilihan warna yang membuat hati adem. Tak sekadar bagus, pengambilan gambarnya pun mampu menegaskan karakter dan mendukung cerita. Namun perihal tata suara, Khikmawan Santosa seharusnya bisa lebih rapi. Sebab ada beberapa adegan yang suaranya tumpang-tindih dan penyuntingan dialog yang terdengar kurang nyaman.

Nutshell        : Ave Maryam menunjukkan usaha manusia mencintai Tuhan dan sesamanya.

Rating 17+ Director Ertanto Robby Soediskam Screenplay Ertanto Robby Soediskam Cast Maudy Koesnaidi, Chicco Jerikho, Tutie Kirana, Olga Lydia, Joko Anwar Running Time 73 menit

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment