Apakah Layanan Streaming Menghancurkan Bioskop?

Apakah Layanan Streaming Menghancurkan Bioskop?

Apakah Layanan Streaming Menghancurkan Bioskop?

Kehadiran layanan streaming cukup mengkhawatirkan para eksibitor bioskop. Persaingan antara kedua bisnis ini menjadi semakin menarik untuk diperhatikan di masa mendatang.

13 August 2019, 12:35

Layanan streaming film kini menjadi sebuah trend baru dalam kebudayan pop masyarakat dunia. Berbagai layanan streaming dari luar hingga lokal bermunculan satu per satu. Semuanya memiliki tujuan sama, menawarkan sebuah kemudahan dalam menikmati film yakni di rumah dan dengan gadget-gadget yang selalu menemani keseharian. Para penonton diberikan pilihan lain untuk tidak pergi ke bioskop dan mengantri tiket demi menonton sebuah film. Semuanya kini bisa tersaji lebih cepat dan mudah.

Netflix, Amazon, Hulu, dan berbagai layanan streaming lainnya kini dianggap sebagai ancaman bagi industri film bioskop. Beberapa sutradara besar Hollywood bahkan sudah menyatakan layanan streaming seperti di atas bisa membunuh industri perfilman di suatu hari nanti. Tapi sebenarnya apakah benar layanan streaming film menghancurkan bioskop?

Sebuah studi dari EY’s Quantitative Economics and Statistics mengatakan bahwa Netflix dkk sebenarnya tidak menghancurkan industri bioskop. Hasil studi mereka membuktikan bahwa orang-orang yang pergi ke bioskop justru lebih sering mengonsumsi konten-konten di layanan streaming. Hal tersebut cukup menampar orang-orang yang sempat mengeluhkan sepinya bioskop karena masyarakat era modern lebih memilih menonton lewat aplikasi streaming di rumah.

Jika hasil penelitian tersebut akurat, fakta yang tersaji adalah kedua bentuk konsumsi hiburan itu justru saling melengkapi satu sama lain, bukannya malah saling membunuh. Studi tersebut menemukan, misalnya, bahwa responden yang mengunjungi bioskop sembilan kali atau lebih dalam satu tahun terakhir nyatanya mengonsumsi konten streaming lebih banyak dari responden yang hanya mengunjungi bioskop sekali atau dua kali dalam setahun. Mereka yang menonton sembilan film atau lebih dalam setahun rata-rata menghabiskan waktu streaming mingguan selama 11 jam, terpaut cukup jauh dengan mereka yang jarang ke bioskop dan hanya menghabiskan rata-rata waktu streaming selama tujuh jam. 

EY’s Quantitative Economics and Statistics melakukan riset terhadap 2500 responden, yang 80 persen di antaranya setidaknya pergi menonton film ke bioskop sekali dalam setahun. Studi ini ditugaskan oleh National Association of Theaters Owner (NATO), sebuah kelompok dalam industri eksebisi, yang secara terbuka sudah sangat vokal dalam mengkritik keputusan Netflix untuk melupakan rilis bioskop tradisional untuk film-film seperti Roma atau Outlaw King. Pada kasus ini, beberapa layanan streaming semacam Netflix sengaja merilis filmnya bersamaan dengan penayangan eksklusif di medium mereka.

"Pesannya di sini adalah bahwa tidak ada perang antara layanan streaming dan bioskop," kata Phil Contrino, direktur media dan penelitian di NATO. "Orang-orang yang menyukai konten menontonnya di berbagai platform dan semua platform ada di benak konsumen."

0 Comments
Leave your comment
Membalas

Submit Comment